Proses Pembuatan Batik

153

Awal mula pembuatan batik adalah dengan menulis pola dan motif pada kain putih berbahan katun yang di kenal dengan nama kain mori. Dengan malam ( bahan dasar untuk batik tulis) yang di panaskan menggunakan kompor kecil yang sudah dimodifikasi menyesuaikan wajan ( tempat untuk memasak malam ) dari berbahan padat menjadi cair yang siap digunakan untuk pada kain mori.
Untuk menulis motif pada kain mori diperlukan sebuah alat untuk merepresentasikan malam cair ke dalam sebuah bidang datar berbahan kain putih. Sebuah alat seperti bolpoint atau spidol yang mewujudkan tinta menjadi sebuah tulisan indah pada kertas maupun bidang lain.
Adalah canting, nama alat yang digunakan sebagai wadah atau tempat malam cair. Canting adalah alat untuk membatik. Canting terdiri dari tempat penampungan lilin panas, dan gagang untuk pemegang. Tempat penampungan di buat dari bahan tembaga, sedangkan gagang canting dibuat dari kayu atau bambu.
Bentuk canting unik dengan ujungnya memilki belalai seperti gajah namun berukuran mini.
Berikut ini gambar canting dan pasangannya malam

image

Canting

image

Malam sebelum di masak

image

Malam kering sesudah di masak

Pembuatan batik tulis memerlukan waktu yang tidak sedikit. Banyak proses yang harus di lewati
Tiga belas langkah dalam pembuatan batik tulis pekalongan
1. Molani atau memola, yaitu membikin pola sederhana diatas kain mori. Memola atau membuat design atau
motif ini dapat menggunakan pensil. Dalam pemilihan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda- beda. Ada yang membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada.
Motif yang kerap dipakai di Indonesia
adalah batik yang terbagi menjadi 2 : batik klasik, yang banyak bermain dengan simbol-simbol dan Pakem pakem tertentu, dan batik pesisiran yang lebih dinamis dan tidak mengenal pakem, biasanya dengan ciri khas natural seperti gambar bunga dan kupu-kupu.
2. Setelah selesai memola/molani, langkah kedua adalah membatik yaitu melukis dengan malam (lilin) menggunakan canting dengan mengikuti pola yang telah dibuat tersebut.
3. Mbironi, yaitu melakukan pewarnaan dasar, biasanya dengan warna-warna tertentu seperti biru, merah, hitam dll.
4. Isen-isen yaitu menutupi dengan lilin malam bagian- bagian yang akan tetap berwarna putih (tidak berwarna).
5. Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu .
6. Setelah dicelupkan, kain tersebut di jemur dan dikeringkan.
7. Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada pewarnaan yang pertama.
8. Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua.
9. Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan kain tersebut dengan
air panas diatas tungku.
10. Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk
menahan warna pertama dan kedua.
11. Proses menghilangkan dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
12. Proses selanjutnya adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan
membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik tersebut telah siap untuk digunakan.
13. Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.

SEMOGA BERMANFAAT

LEAVE A REPLY